Sabtu, 24 Januari 2015

Pemkab Subang Galakkan Penanamam Bambu di Ciater

CIATER- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Subang menyerukan aksi penghijauan dan menggalakan penanaman bambu di daerah wisata air panas Sariater, Ciater, Subang, Jumat (19/4/2013). 

Hari ini Bupati Subang, Ojang Sohandi mempelopori aksi tanam bambu sebanyak 700 bibit pohon bambau di kawasan Ciater. "Hari ini kita akan menanam 700 bibit pohon bambu, sebelumnya kita juga telah menanam  500 bibit pohon bambu disana," kata Ojang kepada TINTAHIJAU.com, Jumat (19/4/2013).

Menurut Ojang Sohandi, pihaknya mempunyai program menanam 1.500 bibit pohon bambu, program itu akan dilakukannya secara bertahan, tahap pertama 500 bibit, tahap kedua hari ini adalah 700 bibit. "Rencananya kita akan tanam lagi 300 bibit pohon bambu di tahap ketiga di kawasan hutan tersebut," jelasnya.

Jika areal resapan air blok hutan bambu dibiarkan maka Subang akan mengalami krisis air dan mendatangkan bahaya banjir, terutama di wilayah Pantai Utara. "Tadi pagi pihak BPLH bersama pemerintah sudah menenami kembali kawasan hutan yang gudul tersebut, Pokona 'nu nyabut awi ieu sing burut," pungkasnya. 

Perkebunan Ciater (PTP XII)


ciater, Subang, Jawa Barat 
Tidak ada artikel untuk lokasi ini  Data Ringkas untuk lokasi ini  Tidak ada galeri untuk lokasi ini

»DATA UMUM PENGELOLA
Nama PengelolaPT Perkebunan XI, XII, XIII
Alamat KantorJl. Prof. DR. Ir. Sutami No 4 Bandung
»DATA UMUM OBYEK WISATA AGRO
Nama Obyek Wisata AgroPerkebunan Teh Ciater
Nama LokasiKec. Nagarak
Kabupaten TerdekatSubang
ProvinsiJawa Barat
Jarak Lokasi ke Kota KabupatenSubang - km
Sarana Transportasi dari Ibukota Kabupaten ke LokasiBus/angkutan darat
Jarak Lokasi ke Ibukota ProvinsiBandung 30 km
Sarana Transportasi dari Ibu Kota propinsi ke LokasiBus / angkutan darat
Jarak Lokasi ke JakartaJakarta - km
Sarana transportasi dari JakartaBus / angkutan darat
»DATA DASAR OBYEK WISATA AGRO
LAHAN
Elevasi1000 m dpl
SuhuTropis (15 – 27 oC )
Kelembapan60%
KOMODITAS
UtamaTeh
Lainnya-
FASILITAS
Utama
Taman/Kebun RekreasiKebun teh,
Sarana LainnyaPemandian Air Panas Sariater
Pendukung
PenginapanResort Sariater
ParkirTersedia
TelekomunikasiTelepon
Tempat OlahragaTeawalk
Tempat IbadahMesjid
Pemandu wisatapemandu berbahas Inggris dan Belanda
Lama Kunjungan1-2 hari
Tarif Kunjungan-
Kantor InformasiPTP XII
Jl. Prof. DR. Ir. Sutami No.4 Bandung
»POTENSI DAN PROSPEK
Daya Tarik bagi Wisatawan Domestikpemandangan alam, teawalk, pemandian air panas
Daya Tarik bagi Wisatawan Domestikpemandangan alam, teawalk, pemandian air panas
Jumlah Kunjungan wisatawan
dalam 2 tahun terakhir
- orang (domestik), - orang (mancanegara)

MASYARAKAT PEDESAAN

MASYARAKAT PEDESAAN
  1. PENGERTIAN DESA/PEDESAAN
Yang dimaksud desa menurut Sutardjo Kartohadikusuma mengemukakan sebagai berikut:
“ desa adalah suatu kesatuan hukum di mana bertempat tinggal suatu masyarakat pemerintahan sendiri.”
Menurut Bintarto desa merupakan perwujudan atau kesatuan geografi, social, ekonomi, politik dan kultural yang terdapat di situ (suatu daerah) dalam hubungannya dan pengaruhnya secara timbal-balik dengan daerah lain.
Sedangkan menurut Paul h. Landis, desa adalah penduduknya kurang dari 2.500 jiwa.
Ciri-ciri masyarakat pedesaan adalah sebagai berikut:
  1. Di dalam masyarakat pedesaan memiliki hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan masyarakat pedesaan lainnya di luar batas-batas wilayahnya.
  2. System kehidupan umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan (gemeinschaft atau paguyuban)
  3. Sebagian besar warga masyarakat hidup dari pertanian. Pekerjaan-pekerjaan yang bukan pertanian merupakan pekerjaan sambilan (part time) yag biasa mengisi waktu luang.
  4. Masyarakat tersebut homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat-istiadat dan sebagainya.
Masyarakat pedesaan identic dengan istilah ‘gotong-royong’ yang merupakan kerja sama untuk mencapai kepentingan-kepentingan mereka. Kerja bakti itu ada dua macam:
  1. Kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (biasanya di istilahkan dari bawah).
  2. Kerja sama untuk pekerjaan-pekerjaan yang timbulnya tidak dari inisiatif warga itu sendiriberasal dari luar (biasanya berasal dari atas).
  3. HAKIKAT DAN SIFAT MASYARAKAT PEDESAAN
Beberapa gejala-gejala social yang sering diistilahkan dengan:
  1. Konflik (pertengkaran)
  2. Kontraversi (pertentangan)
  3. Kompetisi (persiapan)
  4. Kegiatan pada masyarakat pedesaan
  5. SISTEM NILAI BUDAYA PETANI INDONESIA
Sistem nilai budaya petani Indonesia antara lain sebagai berikut:
  1. Para petani di Indonesia terutama di pulau jawa pada dasarnya menganggap bahwa hidupnya itu sebagai sesuatu hal yang buruk, penuh dosa, kesengsaraan. Tetapi itu tidak berarti bahwa ia harus menghindari hidup yang nyata dan menghindarkan diri dengan bersembunnyi di dalam kebatinan atau dengan bertapa, bahkan sebaliknya wajib menyadari keburukan hidup itu dengan jelas berlaku prihatin dan kemudian sebaik-baiknya dengan penuh usaha atau ikhtiar.
  2. Mereka beranggapan bahwa orang bekerja itu untuk hidup, dan kadang-kadnag untuk mencapai kedudukannya.
  3. Mereka berorientasi pada masa ini (sekarang), kurang memperdulikan masa depan, mereka kurang mampu untuk itu. Bahkan kadang-kadang ia rindu masa lampau mengenang kekayaan masa lampau menanti datangnya kembali sang ratu adil yang membawa kekayaan bagi mereka).
  4. Mereka menganggap alam tidak menakutkan bila ada bencana alam atau bencana lain itu hanya merupakan sesuatu yang harus wajib diterima kurang adanya agar peristiwa-peristiwa macam itu tidak berulang kembali.  Mereka cukup saja menyesuaikan diri dengan alam, kurang adanya usaha untuk menguasainya.
  5. Dan unutk menghadapi alam mereka cukup dengan hidup bergotong-royong, mereka sadar bahwa dalam hidup itu tergantung kepada sesamanya.
  6. UNSUR-UNSUR DESA
Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, beserta penggunaanya.
Penduduk, adalah hal yang meliputi jumlah pertambahan, kepadatan, persebaran dan mata pencaharian penduduk desa setempat.
Tata kehidupan, dalam hal ini pola pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan warga desa.
Ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan dan tidak berdiri sendiri.
  1. FUNGSI DESA
Pertama, dalam hubungan dengan kota, maka desa yang merupakan “hinterland” atau daerah dukung yang berfungsi sebagai suatu daerah pemberian bahan makanan pokok.
Kedua, desa ditinjau dari sudut potensi ekonomi berfungsi sebagai lumbung bahan mentah (raw material) dan tenaga kerja (man power) yang tidak kecil artinya.
Ketiga, dari segi kegiatan kerja (occupation) desa dapat merupakan desa agraris, desa manufaktur, desa industry, desa nelayan dan sebagainya.